Cara Mengukur Badan Kegemukan atau Tidak dengan 3 Indikator Ini

Senin, 19 Februari 2024 | 15:19 WIB   Penulis: Bimo Kresnomurti
Cara Mengukur Badan Kegemukan atau Tidak dengan 3 Indikator Ini

ILUSTRASI. Ilustrasi lemak perut  


Cara Mengukur Kegemukan - JAKARTA. Simak cara mengukur badan kegemukan atau tidak dengan beberapa penilai. Menilai kegemukan pada tubuh melibatkan beberapa indikator yang mencakup indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang, dan persentase lemak tubuh.

BMI digunakan secara umum untuk mengklasifikasikan berat badan seseorang berdasarkan tinggi dan berat badan, membedakan antara kurang berat badan, berat badan normal, kelebihan berat badan, dan obesitas.

Lingkar pinggang menjadi relevan dalam menilai distribusi lemak tubuh, terutama di sekitar perut, yang dapat mempengaruhi risiko penyakit kardiovaskular.

Persentase lemak tubuh memberikan gambaran tentang jumlah lemak dalam tubuh, dengan tingkat yang tinggi dapat menunjukkan risiko kesehatan yang lebih besar.

Baca Juga: 9 Makanan untuk Meningkatkan Kolesterol Baik

ilustrasi kesehatan

Semua indikator ini penting untuk memahami kondisi kegemukan secara holistik, dan penilaian yang lebih mendalam dapat memberikan pemahaman yang lebih akurat tentang risiko kesehatan individu.

Selain itu, perlu diingat bahwa pendekatan yang komprehensif melibatkan juga faktor-faktor seperti pola makan, tingkat aktivitas fisik, dan riwayat kesehatan pribadi untuk memberikan penilaian yang lebih lengkap dan solusi yang sesuai.

Nah, sebelum mengenal lebih jauh bagaimana indikator lemak dalam tubuh, pahami beberapa jenis lemak tubuh. Setiap lemak memiliki fungsi dan efeknya yang berbeda untuk tubuh, informasi berikut dirangkum dari laman Synergy Wellness.

Jenis-jenis Lemak dalam Tubuh

1. Lemak Visceral

Lemak visceral adalah lemak keras yang ditemukan bergulung di sekitar organ dalam rongga perut. Kadang disebut juga "lemak dalam." Orang dengan tingkat lemak visceral yang tinggi biasanya mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat olahan, alkohol, lemak trans, dan lemak jenuh.

Semakin banyak makanan ini dikonsumsi seseorang, semakin banyak lemak visceral yang disimpan tubuhnya di rongga perut.

Tingkat lemak visceral yang tinggi dapat meningkatkan risiko banyak masalah kesehatan, termasuk kanker, stroke, serangan jantung, demensia, dan sindrom metabolik. Ini juga dapat mengganggu produksi insulin, meningkatkan risiko diabetes.

Sebuah studi tahun 2014 bahkan menemukan bahwa individu dengan tingkat lemak visceral yang lebih tinggi menunjukkan tingkat kalsifikasi yang lebih tinggi di dalam arteri koroner mereka.

2. Lemak Subkutan

Disebut juga sebagai "lemak lunak," lemak subkutan adalah lemak yang biasanya digunakan untuk mengukur indeks massa tubuh (IMT) seseorang. Mengingat lokasinya di bawah kulit dan di luar rongga perut, ini sering menjadi lemak yang kita lihat di sekitar pinggang, paha, pinggul, dan bokong saat bercermin.

Tidak seperti lemak visceral, lemak subkutan justru dapat memberikan beberapa manfaat kesehatan, menurut sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan dalam Cardiovascular Diabetology.

Studi ini menemukan bahwa penumpukan lemak lunak ini secara langsung berhubungan dengan penurunan risiko penumpukan kolesterol dan lemak di dalam dinding arteri. Jenis lemak ini juga dikaitkan dengan penurunan risiko penumpukan kalsium di dalam arteri koroner.

Namun, ini tidak berarti orang harus dengan sengaja membangun lebih banyak lemak subkutan. Terlalu banyak lemak jenis ini dapat membebani ligamen dan tendon karena menambah berat badan.

3. Lemak Coklat

Lemak coklat ditemukan pada manusia dari segala usia, tetapi biasanya ditemukan dalam konsentrasi yang lebih besar pada bayi. Ini karena tujuan lemak coklat dalam tubuh adalah untuk membakar energi yang telah disimpannya untuk menghasilkan panas.

Bayi membutuhkan kehangatan dan perlindungan tambahan dari lebih banyak lemak coklat dibandingkan orang dewasa. Lemak coklat cenderung subkutan karena sebagian besar ditemukan di sekitar tulang belikat, tulang belakang, dan tulang selangka.

Namun, bisa juga ditemukan di sekitar beberapa organ, sehingga berpotensi lebih bersifat visceral. Hubungannya dengan potensi risiko atau manfaat kesehatan tidak banyak diketahui.

4. Lemak Putih

Tubuh manusia bergantung pada lemak putih untuk menyimpan nutrisi dan energi untuk digunakan saat dibutuhkan. Sebagian besar lemak dalam tubuh dapat diklasifikasikan sebagai lemak putih. Fungsi ini tidak serta merta berarti lemak coklat unggul dalam perbandingan "lemak coklat vs. lemak putih."

Tubuh manusia membutuhkan kedua jenis lemak dalam tingkat yang sehat agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Lemak putih bisa berupa visceral atau subkutan, tergantung lokasinya. Ini berarti beberapa lemak putih bisa bermanfaat, sementara lemak putih lainnya dapat dianggap visceral dan membuat seseorang berisiko lebih tinggi terhadap berbagai masalah kesehatan.

Indikator kegemukan dapat diukur dengan berbagai cara, dan beberapa metode umum melibatkan pengukuran indeks massa tubuh (BMI), pengukuran lingkar pinggang, dan evaluasi distribusi lemak tubuh.

Indikator Mengukur Kegemukan

Berikut adalah beberapa indikator kegemukan yang umum digunakan:

1. Indeks Massa Tubuh (BMI)

BMI adalah metode umum untuk menilai kegemukan berdasarkan berat dan tinggi tubuh seseorang. Formula BMI adalah berat badan (dalam kilogram) dibagi oleh tinggi badan (dalam meter) kuadrat. Nilai BMI kemudian dikelompokkan ke dalam kategori, seperti di bawah berat badan normal, normal, kelebihan berat badan, obesitas ringan, obesitas sedang, dan obesitas berat.

2. Lingkar Pinggang

Pengukuran lingkar pinggang dapat memberikan informasi tentang distribusi lemak di sekitar pinggang dan perut. Lingkar pinggang yang lebih besar dapat menunjukkan penumpukan lemak visceral, yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes.

3. Rasio Lingkar Pinggang dan Lingkar Pinggul (Lingkar Pinggang-Pinggul)

Mengukur lingkar pinggang dan pinggul, dan menghitung rasio lingkar pinggang-pinggul, dapat memberikan informasi tambahan tentang distribusi lemak tubuh. Rasio yang tinggi dapat menunjukkan penumpukan lemak di sekitar perut, yang berhubungan dengan risiko kesehatan yang lebih tinggi.

4. Persentase Lemak Tubuh

Pengukuran persentase lemak tubuh menggunakan alat khusus atau metode seperti dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) dapat memberikan gambaran tentang jumlah lemak tubuh dalam hubungannya dengan massa otot dan tulang.

Dokter atau ahli gizi dapat menilai distribusi lemak tubuh secara visual dan dengan menyentuh bagian tertentu untuk menentukan apakah lemak lebih banyak terkonsentrasi di area tertentu.

Faktor-faktor ini juga berkaitan dengan penilaian tekanan darah, kadar kolesterol, dan glukosa darah, yang digunakan sebagai indikator risiko kesehatan yang terkait kegemukan.

Contoh penggunaan indikator kegemukan

Ilustrasi Kesehatan

Berikut adalah kriteria umum untuk menilai kelebihan berat badan dan obesitas pada pria dan wanita, dilansir dari British Heart Foundation.

1. BMI (Indeks Massa Tubuh)

Kategori BMI:

  • Kurang dari 18,5: Berat badan kurang.
  • 18,5 - 24,9: Berat badan normal.
  • 25,0 - 29,9: Kelebihan berat badan.
  • 30,0 - 34,9: Obesitas kelas I (ringan).
  • 35,0 - 39,9: Obesitas kelas II (sedang).
  • 40 atau lebih: Obesitas kelas III (berat).

Contoh Penggunaan BMI:

Misalnya, seseorang dengan tinggi 170 cm dan berat 70 kg akan memiliki BMI sekitar 24,2, yang masuk ke dalam kategori berat badan normal.

2. Lingkar Pinggang

Kategori Lingkar Pinggang:

Anda bisa menilai dengan pengukuran lingkar pinggang sendiri dari rumah.

- Pria:

  • Normal: Kurang dari 94 cm.
  • Meningkat: 94 - 102 cm.
  • Tinggi: 102 cm atau lebih.

- Wanita:

  • Normal: Kurang dari 80 cm.
  • Meningkat: 80 - 88 cm.
  • Tinggi: 88 cm atau lebih.

Signifikansi Lingkar Pinggang:

Lingkar pinggang yang lebih besar, terutama jika melebihi batas normal, dapat menunjukkan penumpukan lemak di area perut dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

3. Persentase Lemak Tubuh

Rentang persentase lemak tubuh berikut ini bisa berbeda-beda setiap penilai dan alat yang dipakai.

- Pria:

  • Normal: 6-24%.
  • Kelebihan berat badan: 25-29%.
  • Obesitas: 30% atau lebih.

- Wanita:

  • Normal: 16-30%.
  • Kelebihan berat badan: 31-34%.
  • Obesitas: 35% atau lebih.

Signifikansi Persentase Lemak Tubuh:

Persentase lemak tubuh yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan masalah kesehatan lainnya.

Penting untuk dicatat bahwa nilai-nilai ini bersifat umum, dan penilaian kesehatan yang lebih mendalam dapat dilakukan oleh profesional kesehatan.

Selanjutnya: Penjualan Wholesales Mobil pada Januari 2024 Turun 18,4%, Simak Rekomendasi Analis

Menarik Dibaca: Jadi Orang Disiplin dan Tepat Waktu, Ini 6 Tips Menghindari Datang Terlambat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Bimo Kresnomurti

Terbaru