Biodiesel B50 Dikirim Ke SPBU, Ini Komponen Mobil Diesel yang Wajib Diperhatikan

Jumat, 24 Juli 2026 | 07:00 WIB
Biodiesel B50 Dikirim Ke SPBU, Ini Komponen Mobil Diesel yang Wajib Diperhatikan

ILUSTRASI. Isuzu mengingatkan pengguna mobil diesel lebih disiplin merawat filter BBM saat memakai B50 karena sifat biodiesel yang lebih higroskopis.


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar B50 mulai didistribusikan ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia pada 23 Juli 2025. Untuk pemilik kendaraan diesel, berikut komponen mobil yang harus diperhatikan selama menggunakan biosolar B50.

PT Pertamina Patra Niaga mulai merealisasikan penyaluran perdana bahan bakar biosolar B50 ke sejumlah SPBU. Pada pengiriman perdana ini, anak usaha Pertamina ini mengirimkan sebanyak 12.830 kiloliter (KL) biosolar B50 untuk wilayah Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

Pengiriman perdana ini menjadi langkah operasional awal implementasi program mandatori B50 yang sebelumnya diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional dan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.

Biosolar B50 merupakan bahan bakar hasil pencampuran 50% minyak solar dengan 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang berasal dari minyak kelapa sawit. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan data penyaluran perdana, volume biosolar B50 yang dikirim mencapai 12.830 KL dengan rincian sebagai berikut:

  • Kilang Kasim mengirimkan 4.600 KL biosolar B50 menggunakan kapal MT Krasak.
  • Kilang Plaju mengirimkan 8.230 KL biosolar B50 menuju Integrated Terminal Palembang.

Setelah tiba di terminal bahan bakar, biosolar B50 akan didistribusikan lebih lanjut ke sejumlah SPBU di wilayah operasional masing-masing untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor industri yang telah ditetapkan sebagai pengguna bahan bakar tersebut.

Baca Juga: Resmi! Harga iCloud Plus Naik, Capai Rp 1,19 Juta, Cek Cara Atasi Memori iPhone Penuh

Dukung Ketahanan Energi Nasional

Implementasi program B50 menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan bauran energi nasional berbasis energi terbarukan. Penggunaan FAME yang berasal dari minyak sawit domestik juga diharkan mampu memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit Indonesia.

Selain berpotensi mengurangi impor solar, penggunaan biosolar B50 diproyeksikan dapat memberikan penghematan devisa negara serta mendorong peningkatan penyerapan minyak sawit dalam negeri.

Di sisi lingkungan, peningkatan komposisi biodiesel dalam campuran bahan bakar dinilai mampu menurunkan emisi gas rumah kaca dibandingkan penggunaan solar konvensional.

Program B50 juga merupakan kelanjutan dari implementasi mandatori biodiesel yang sebelumnya dimulai dari B20, kemudian ditingkatkan menjadi B30, B35, dan B40 sebelum akhirnya memasuki tahap B50 pada tahun 2026.

Tips Penggunaan B50 

PT Isuzu Astra Motor Indonesia memastikan seluruh kendaraan diesel Isuzu yang dipasarkan di Indonesia telah dirancang untuk mengikuti kebijakan pemerintah terkait penggunaan biodiesel, termasuk implementasi bahan bakar B50.

Meski demikian, pengguna kendaraan diesel diimbau untuk lebih disiplin menjalankan perawatan berkala karena biosolar B50 memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan solar konvensional.

Dilansir dari Kompas.com, Business Solutions Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Anjar Rosjadi, menjelaskan bahwa B50 yang mengandung 50% biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) memiliki sejumlah karakteristik khusus yang perlu diperhatikan oleh pengguna kendaraan.

"B50 itu bahan dasarnya 50 persen biodiesel. Karakter kimianya memiliki kemampuan pelumasan yang lebih baik, tetapi juga lebih higroskopis, lebih mudah mengalami oksidasi, serta memiliki kemampuan cleansing," ujar Anjar, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, kemampuan cleansing atau membersihkan endapan pada sistem bahan bakar merupakan salah satu keunggulan biodiesel. Namun, pada kendaraan yang jarang menjalani perawatan berkala, endapan yang terlepas berpotensi tertahan pada filter bahan bakar.

Filter BBM Perlu Lebih Sering Dicek

Anjar mengatakan filter bahan bakar menjadi salah satu komponen yang perlu mendapatkan perhatian lebih saat kendaraan menggunakan biosolar B50.

Komponen tersebut berfungsi menyaring berbagai kotoran sebelum bahan bakar masuk ke sistem injeksi mesin. Apabila kendaraan digunakan dalam kondisi operasional yang berat, pengguna disarankan untuk mengganti filter bahan bakar lebih cepat dibandingkan interval penggantian normal.

"Kalau penggunaannya cukup berat, sebaiknya pergantian filter dilakukan lebih cepat dari yang disarankan," katanya.

Selain itu, Isuzu juga mengimbau konsumen untuk menggunakan filter bahan bakar asli (genuine parts) yang telah sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

"Yang paling penting menggunakan filter genuine karena kualitasnya sudah sesuai dengan kebutuhan kendaraan," ujar Anjar.

Jangan Abaikan Gejala Awal

Menurut Anjar, sebelum bahan bakar mencapai injektor, solar akan melewati sejumlah komponen penting seperti filter bahan bakar, fuel pump, control valve, hingga common rail.

Karena itu, filter bahan bakar berfungsi sebagai lapisan perlindungan pertama bagi sistem injeksi mesin diesel.

"Kasus pertama pasti terjadi di filter dulu. Kalau filter rutin diganti, biasanya tidak akan sampai merusak komponen di atasnya seperti injektor," jelasnya.

Ia juga mengingatkan pemilik kendaraan agar tidak mengabaikan gejala awal apabila performa kendaraan mulai terasa berbeda setelah penggunaan bahan bakar.

"Jadi kalau mulai terasa ada yang berbeda, jangan dipaksa terus digunakan. Lebih baik langsung dicek supaya bisa dilakukan tindakan preventif," katanya.

Dengan melakukan pemeriksaan sejak dini, risiko kerusakan komponen yang memiliki biaya perbaikan lebih mahal dapat diminimalkan.

Isi BBM di SPBU Resmi

Selain melakukan perawatan berkala, Isuzu mengimbau konsumen untuk selalu mengisi bahan bakar di SPBU resmi guna memastikan kualitas biosolar yang digunakan sesuai standar.

Penggunaan bahan bakar yang berkualitas dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga performa dan keandalan sistem injeksi kendaraan diesel.

"Kami mengimbau konsumen melakukan pengisian bahan bakar di SPBU resmi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Anjar.

Saat ini, PT Isuzu Astra Motor Indonesia masih terus melakukan pengujian penggunaan biosolar B50 pada seluruh lini kendaraan dieselnya dengan jarak tempuh hingga puluhan ribu kilometer. Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan keandalan kendaraan dalam mendukung implementasi program mandatori B50 yang mulai diterapkan pemerintah.

Bagi pemilik mobil diesel, penerapan B50 tidak hanya membutuhkan bahan bakar yang sesuai standar, tetapi juga kedisiplinan dalam menjalankan perawatan berkala, terutama pada komponen filter bahan bakar yang menjadi garda terdepan dalam melindungi sistem injeksi mesin.




 

Timnas Spanyol Kecewa! Hadiah Rp895 Miliar Piala Dunia 2026 Dipotong Pajak AS 30%

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Video Terkait


Terbaru