Ramai Tren Mencampur BBM Beda Oktan, Ini 3 Bahaya bagi Kendaraan Menurut Pertamina

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:29 WIB
Ramai Tren Mencampur BBM Beda Oktan, Ini 3 Bahaya bagi Kendaraan Menurut Pertamina

ILUSTRASI. BBM Non subsidi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Sumber: Instagram Pertamax Series  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Intip bahaya mencampur BBM berbeda oktan. Masyarakat tengah ramai dengan tren mencampur BBM berbeda oktan untuk kendaraan sebagai hal yang biasa dilakukan.

Padahal, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi performa mesin, terutama pada kendaraan yang dirancang menggunakan BBM beroktan tinggi.

Pertamina melalui unggahan resmi di akun Instagram Pertamax Series (@pertamaxseries.id), menjelaskan bahwa nilai oktan (RON) menunjukkan kemampuan bahan bakar dalam menahan pembakaran dini (knocking) di dalam ruang bakar.

Baca Juga: Sering Ganti Jenis BBM? Ini Bahaya Tak Terduga yang Mengintai Kendaraan Anda

Semakin tinggi nilai RON, semakin baik kemampuan bahan bakar menjaga proses pembakaran tetap stabil pada mesin yang memang dirancang membutuhkan BBM beroktan tinggi.

Pertamina juga mengimbau agar pemilik kendaraan selalu menggunakan BBM dengan nilai RON yang sesuai rekomendasi pabrikan agar mesin bekerja sesuai desain dan performanya tetap optimal.

Apa Dampak Mencampur BBM Berbeda Oktan?

Berdasarkan materi edukasi yang dibagikan Pertamax Series, terdapat sejumlah dampak yang dapat muncul apabila kendaraan berkompresi tinggi menggunakan campuran BBM dengan kualitas yang tidak konsisten.

Baca Juga: Diskon BBM Pertamax dan Pertamina Dex Arus Balik 2026, Bagaimana Cara Belinya?

1. Risiko Knocking Lebih Tinggi

Dampak pertama adalah meningkatnya risiko knocking atau pembakaran tidak normal.

Menurut Pertamax Series, mesin dengan rasio kompresi tinggi membutuhkan kualitas BBM yang stabil. Campuran BBM dengan nilai oktan yang berbeda dapat membuat proses pembakaran menjadi tidak konsisten sehingga memicu knocking.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mempercepat keausan berbagai komponen mesin.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Gelar Uji Emisi Gratis, Sasar 7.000 Kendaraan di Jabodetabek

2. ECU Terus Beradaptasi

Perubahan kualitas bahan bakar juga membuat Electronic Control Unit (ECU) kendaraan harus terus menyesuaikan waktu pembakaran.

Akibatnya, beberapa dampak yang dapat dirasakan antara lain:

  • Tenaga mesin dapat menurun.
  • Konsumsi BBM menjadi kurang efisien.
  • Sensor dan sistem elektronik mesin bekerja lebih berat karena terus melakukan penyesuaian.

Baca Juga: Kompak Turun di Februari 2026, Ini Perbandingan Harga BBM Pertamax, Shell Super & BP

3. Injektor Lebih Cepat Kotor

Pertamax Series juga menjelaskan bahwa kualitas pembakaran yang kurang optimal dapat mempercepat terbentuknya kerak pada sistem injeksi.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan:

  • Injektor lebih cepat kotor.
  • Performa mesin menurun.
  • Biaya perawatan kendaraan meningkat karena komponen memerlukan pembersihan atau servis lebih sering.

Gunakan BBM Sesuai Rekomendasi Pabrikan

Setiap kendaraan dirancang dengan kebutuhan angka oktan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penggunaan BBM sebaiknya mengikuti spesifikasi yang tercantum pada buku manual kendaraan.

Semakin tinggi rasio kompresi mesin, umumnya semakin tinggi pula nilai RON yang direkomendasikan.

Penggunaan BBM sesuai spesifikasi membantu menjaga proses pembakaran tetap optimal, meningkatkan efisiensi bahan bakar, serta mempertahankan performa mesin dalam jangka panjang.

Tonton: Penjualan Mobil Naik Pesat, Toyota Masih Jadi Favorit

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru