KONTAN.CO.ID - Kemudahan transaksi lewat mobile banking kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern di tanah air.
Hanya dalam satu genggaman, kita bisa melakukan transfer, bayar tagihan, hingga belanja daring tanpa perlu mengantre di mesin ATM.
Namun, di balik segala kepraktisan tersebut, ada ancaman nyata yang mengincar saldo nasabah, yaitu phishing.
Modus kejahatan digital ini semakin licin karena para pelakunya sering kali menyamar sebagai pihak bank atau aparat untuk mencuri data pribadi nasabah secara halus.
Baca Juga: Kumpulan Ucapan HUT Ke-76 Kavaleri TNI AD untuk Refleksi Kedaulatan Bangsa
Mengenal Ancaman Phishing dan Kejahatan Digital
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kejahatan digital di sektor keuangan sering kali memanfaatkan kelemahan psikologis pengguna melalui teknik social engineering.
Pelaku biasanya mengirimkan tautan palsu melalui SMS, email, atau pesan instan yang menyerupai komunikasi resmi dari lembaga perbankan.
Jika pengguna mengklik tautan tersebut dan memasukkan data sensitif, maka pelaku dapat dengan mudah menguasai akun perbankan korban.
Mengutip dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan, phishing memiliki beberapa jenis yang umum ditemui, mulai dari deceptive phishing yang menggunakan identitas palsu, hingga smishing yang dilakukan melalui pesan singkat.
Inti dari serangan ini adalah mencuri informasi penting seperti username, kata sandi, PIN, hingga kode OTP (One Time Password).
Data inilah yang menjadi kunci utama bagi pelaku kejahatan untuk melakukan transaksi ilegal atau menguras saldo tabungan nasabah.
Selain itu, melansir dari laman resmi Bank Central Asia (BCA), perlindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama antara pihak bank dan nasabah.
Bank selalu memperbarui sistem keamanan mereka, namun benteng pertahanan terakhir tetap berada di tangan pengguna.
Kesalahan kecil seperti memberikan kode OTP kepada orang lain atau menggunakan jaringan Wi-Fi publik saat bertransaksi dapat berujung pada penyalahgunaan data perbankan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Baca Juga: Punya Voucher MAP? Jangan Sampai Kadaluarsa, Cek Toko Penerimanya!
Panduan Teknis Keamanan Bertransaksi Mobile Banking
Untuk memastikan aktivitas keuangan Anda tetap terlindungi, terdapat protokol standar yang wajib diikuti secara disiplin.
Berikut adalah langkah-langkah teknis dan syarat keamanan yang harus diterapkan oleh setiap pengguna aplikasi perbankan digital:
- Gunakan Koneksi Internet Pribadi: Hindari melakukan login atau transaksi finansial menggunakan Wi-Fi publik yang tidak terenkripsi. Gunakan paket data pribadi untuk mencegah risiko penyadapan data oleh pihak ketiga.
- Aktivasi Autentikasi Dua Faktor (2FA): Pastikan fitur biometrik seperti sidik jari (fingerprint) atau pemindai wajah (face ID) serta OTP telah aktif. Fitur ini memberikan lapisan keamanan ganda selain kata sandi standar.
- Perbarui Aplikasi Secara Rutin: Selalu gunakan versi terbaru dari aplikasi mobile banking di toko aplikasi resmi (Play Store atau App Store). Pembaruan biasanya mencakup perbaikan keamanan untuk menutup celah yang bisa dieksploitasi peretas.
- Waspadai Tautan Asing: Jangan pernah mengklik tautan yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal. Bank tidak pernah meminta data sensitif seperti PIN atau kata sandi melalui pesan singkat atau email.
- Ganti Kata Sandi Secara Berkala: Lakukan perubahan PIN dan kata sandi setidaknya setiap 3-6 bulan sekali. Hindari menggunakan kombinasi angka yang mudah ditebak seperti tanggal lahir atau urutan angka 1-2-3-4-5-6.
Jika Anda merasa telah menjadi sasaran phishing atau mendapati aktivitas mencurigakan pada akun Anda, segera lakukan langkah-langkah darurat berikut:
- Segera hubungi call center resmi bank Anda untuk memblokir akun dan kartu ATM.
- Ubah seluruh kata sandi aplikasi perbankan dan email yang terhubung melalui perangkat yang berbeda.
- Laporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib atau melalui kanal pengaduan konsumen OJK.
- Periksa mutasi rekening secara detail untuk mengidentifikasi transaksi ilegal yang mungkin terjadi.
Tips Jaga Saldo Tetap Aman dan Terkendali
Menjaga keamanan uang di rekening sebenarnya kembali ke rutinitas Anda. Jangan mudah tergiur dengan pesan yang mengatasnamakan undian berhadiah atau ancaman akun diblokir yang meminta Anda mengklik sebuah tautan.
Sikap skeptis atau tidak mudah percaya pada pesan asing adalah modal utama agar saldo tabungan tidak raib. Ingat, pihak bank yang resmi tidak akan pernah meminta data pribadi seperti PIN atau kode OTP lewat telepon maupun pesan singkat.
Tonton: Regulasi Tak Konsisten, Investor Pilih Thailand dan Vietnam Ketimbang Indonesia
Salah satu cara cerdik yang bisa Anda terapkan adalah dengan memisahkan rekening belanja harian dan rekening tabungan utama.
Anda bisa menggunakan satu rekening khusus untuk transaksi mobile banking dengan saldo yang secukupnya saja.
Sementara itu, simpan dana besar atau aset investasi di rekening lain yang tidak terhubung dengan aplikasi belanja di ponsel. Strategi ini sangat efektif untuk membatasi kerugian seandainya ponsel Anda hilang atau data aksesnya sempat terekspos.
Selain itu, rajin-rajinlah mengecek mutasi rekening secara berkala, minimal satu minggu sekali.
Dengan memantau arus uang keluar dan masuk, Anda bisa langsung menyadari jika ada transaksi aneh atau pemotongan saldo yang tidak dikenal.
Semakin cepat Anda menyadari ada yang salah, semakin besar peluang bank untuk membantu mengamankan sisa dana Anda.
Terakhir, pastikan Anda selalu keluar atau logout dari aplikasi perbankan setelah selesai bertransaksi. Jangan biarkan aplikasi terbuka dalam waktu lama, terutama saat ponsel sedang tidak Anda pegang.
Membiasakan diri disiplin dengan hal-hal kecil seperti ini akan membuat akun perbankan Anda jauh lebih sulit ditembus oleh pelaku kejahatan digital. Keamanan uang Anda sepenuhnya ada dalam kendali jari Anda sendiri.
Selanjutnya: Etika Resign Profesional: Cara Mengundurkan Diri Tanpa Merusak Reputasi Karier
Menarik Dibaca: 6 Alasan Tidur Bisa Bikin Berat Badan Turun yang Jarang Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News